Jumat, 29 September 2017

Tapak Kaki Raksasa, Daya Tarik Tapak Tuan

Sejumlah wisatawan lokal berkunjung ke Objek Wisata Tapak Kaki Tuan Tapa di Kota Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (29/09/2017). Tapak kaki itu berukuran sekitar 6 meter. Tapak kaki itu sangat erat dengan legenda Tuan Tapa yang menjadi cikal bakal nama kota Tapak Tuan. Konon tapak kaki itu merupakan bekas tapak kaki Tuan Tapa, yang memiliki tinggi sekitar 12 meter, ketika melawan dua naga di daerah tersebut.


JIKA di Tanah Minang, Sumatera Barat, ada legenda Malin Kundang dengan jejak batu menyerupai orang sedang bersujud di kawasan Pantai Air Manis, di Aceh ada legenda Tuan Tapa dengan jejak tersohor berupa tapak kaki raksasa selebar 2,5 meter dan panjang 6 enam di Gunung Lampu, Tapak Tuan.
Legenda dan jejak tapak kaki itu menjadi daya tarik Tapak Tuan. Keberadaannya pun menimbulkan keingintahuan para pendatang ataupun wisatawan.
Tapaktuan merupakan ibu kota Aceh Selatan. Kota ini terletak sekitar 500 kilometer dari ibu kota Aceh, Banda Aceh. Tapak Tuan berasal dari dua suku kata tapak dan tuan. Penamaan itu tidak terlepas dari legenda Tuan Tapa dan keberadaan tapak kaki raksasa di sana. Legenda ini menjadi cerita rakyat turun-temurun dan dipercayai hingga saat ini.

Juru kunci obyek wisata tapak kaki Tuan Tapa, Chaidir Karim (49), mengisahkan, dahulu hidup seorang petapa sakti bertubuh raksasa bernama Syech Tuan Tapa. ”Ia sering bertapa ataupun bersemadi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya di sebuah bukit yang kini disebut Gunung Tuan di Tapak Tuan,” tutur Chaidir, yang ditetapkan sebagai juru kunci oleh dinas kebudayaan dan pariwisata setempat lima bulan lalu.
Suatu ketika, menurut Chaidir, ada sepasang naga dari daratan Tiongkok menemukan bayi perempuan manusia dengan tanda tahi lalat di perut terapung sendirian di tengah lautan Samudra Hindia. ”Mereka menyelamatkan bayi itu dan merawatnya hingga tumbuh jadi anak perempuan di bukit yang kini disebut Gunung Alur Naga,” ungkapnya penuh keyakinan.
Beberapa tahun berlalu, keberadaan sepasang naga dan anak perempuan itu sampai ke telinga raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka, sebuah kerajaan di kawasan Samudra Hindia. ”Raja dan permaisuri itu kehilangan anak perempuannya ketika berlayar di Samudra Hindia beberapa tahun silam. Mereka curiga anak perempuan yang dirawat kedua naga adalah anak mereka,” katanya.
Setelah mengecek sendiri, Chaidir meneruskan, raja dan permaisuri yakin bahwa anak perempuan itu adalah anaknya. Mereka memintanya kepada kedua naga, tetapi ditolak. Mereka pun membawa lari anak perempuan itu ke kapal dan pergi menyusuri lautan. Kedua naga marah dan mengejar mereka hingga terjadi pertempuran di atas lautan.
Pertempuran itu mengusik persemadian Tuan Tapa. Ia ke luar dari gunung dan melangkahkan kaki kanan di karang untuk melontarkan tubuh ke laut tempat pertempuran. ”Jejak kaki itu membekas di karang yang kini disebut di Gunung Lampu. Orang-orang menyebutnya Tapak Tuan dan menjadi cikal-bakal nama Tapak Tuan,” tuturnya.
Chaidir menceritakan, Tuan Tapa berniat menyelamatkan anak perempuan itu agar tidak menjadi korban pertarungan tersebut. Ternyata, hal itu membuat marah kedua naga dan terjadi pertarungan antara Tuan Tapa dan kedua naga.
Singkat cerita, pertarungan dimenangi Tuan Tapa dan kedua naga tewas. Adapun raja dan permaisuri kembali memiliki anaknya. Mereka bersama pengikutnya menetap di Aceh Selatan. Mereka tidak bisa kembali ke Kerajaan Asralanoka karena kapalnya rusak ketika pertempuran. ”Konon, mereka menjadi nenek moyang masyarakat Tapak Tuan saat ini,” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar